<span;>MINAHASA,Wartamanado.com – Dukungan terhadap program pemerintahan Presiden RI Prabowo Subianto tak lagi berhenti pada pidato dan seremoni.
Di Kabupaten Minahasa, solidaritas diwujudkan dalam aksi nyata yang langsung menyentuh rakyat kecil.
Bertajuk “Berbagi Kasih” dengan tema “Solidaritas Nusantara Bagi Sesama”, Arus Bawah Persada bersama Wanita Ne Toudano dan Kesehatan Indonesia Raya (Kesira) menggelar bakti sosial di Aula SMK Negeri 1 Tondano, Desa Kembuan, Kecamatan Tondano Utara,Minggu (15/2/2026) kemarin.
Tak tanggung-tanggung, sebanyak 40 dokter diterjunkan untuk memberikan pemeriksaan dan pengobatan gratis kepada ratusan warga, khususnya lansia dan masyarakat kurang mampu. Selain layanan kesehatan, paket sembako juga dibagikan guna membantu meringankan beban kebutuhan pokok.
Sejak pagi, aula dipadati warga yang datang dengan penuh harap. Antrean registrasi mengular, sementara tim medis bekerja cepat dan sigap melayani pemeriksaan satu per satu. Suasana hangat, penuh kebersamaan, dan gotong royong begitu terasa, mencerminkan semangat solidaritas yang diusung dalam kegiatan ini.
Hadir dalam kegiatan tersebut, Staf Khusus Menteri Agama Bidang Kerukunan Umat Beragama, Pengawasan, dan Kerja Sama Luar Negeri, Gugun Gumilar.
Kehadirannya memperkuat pesan bahwa kolaborasi lintas elemen bangsa menjadi kunci dalam menjawab tantangan sosial dan ekonomi yang masih dihadapi masyarakat.
Ketua Arus Bawah Persada, Michael Umbas, menegaskan bahwa kegiatan ini bukan agenda simbolis.
“Semangat gotong royong adalah fondasi bangsa. Organisasi harus hadir membawa manfaat nyata bagi rakyat dan sejalan dengan program pemerintah dalam meningkatkan kesejahteraan,” tegasnya.
Sementara itu, Ketua Wanita Ne Toudano, Patris Rumbayan, menekankan pentingnya peran perempuan dalam gerakan sosial.
“Ketulusan dan kepedulian adalah kekuatan utama. Perempuan harus berada di garis depan membantu dan membela rakyat kecil,” ujarnya.
Kegiatan ini dinilai selaras dengan visi pemerintahan Prabowo Subianto yang menitikberatkan pada peningkatan kesejahteraan rakyat, pembangunan sumber daya manusia, serta pemerataan akses layanan kesehatan dan bantuan sosial.
Lebih dari sekadar pembagian bantuan, bakti sosial ini menjadi pesan kuat: solidaritas tidak boleh berhenti di baliho dan spanduk. Di Minahasa, solidaritas dibuktikan dengan menghadirkan dokter, menyalurkan sembako, dan memastikan negara hadir melalui kerja nyata.
Jika gerakan seperti ini terus digelorakan, bukan tidak mungkin “Solidaritas Nusantara” benar-benar menjadi kekuatan sosial yang meluas, tidak hanya di Sulawesi Utara, tetapi juga di seluruh Indonesia.
(*)












